Pemerintah dianggap kurang menyaring sehingga banyak konten berbahaya berseliweran.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Perkembangan teknologi selain memberikan dampak positif, juga memberikan dampak negatif. Salah satunya adalah maraknya konten-konten berbahaya di media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok dan lainnya.
Baca Juga Sosiolog, Nia Elvina mengatakan fenomena ini bersumber dari kurangnya filter dari pemerintah kita terhadap tontonan masyarakat kita khususnya remaja dan anak-anak. Sehingga banyak konten berbahaya yang lewat di beranda media sosial dan bisa ditonton oleh anak dan remaja.
日本 最新ニュース, 日本 見出し
Similar News:他のニュース ソースから収集した、これに似たニュース記事を読むこともできます。
Marak Kasus Hamil di Luar Nikah, Buya Anwar Minta Pemerintah Tegakkan UU Pornografi |Republika OnlinePornografi berpengaruh buruk terhadap moral dan kepribadian bangsa Indonesia.
続きを読む »
Pemerintah Siapkan Integrasi untuk Ratusan Aplikasi PemerintahKementerian PAN-RB tengah menyusun rencana untuk mengintegrasikan ratusan aplikasi pemerintah yang dinilai tidak efektif. Pemerintah juga menyiapkan aturan mengenai masa mutasi agar para ASN bekerja lebih serius lagi. Polhuk AdadiKompas
続きを読む »
Miras Masih Marak Beredar di Serang, Nih BuktinyaBanyak pedagang minuman keras (miras) di Kota Serang berkamuflase sebagai penjual jamu.
続きを読む »
Warga Resah, Aksi Berandalan Geng Motor Kembali Marak di BandungAksi berandalan bermotor yang saat ini kembali marak di sejumlah wilayah di Jawa Barat membuat resah masyarakat. Tak hanya merampas barang berharga, aksi berandalan bermotor yang dilengkapi senjata tajam ini juga kerap kali memakan korban.
続きを読む »
Kasus Sertifikat Tanah Ganda Marak, Komisi II DPR Minta BPN TegasAnggota Komisi II DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Riyanta meminta Badan Pertanahan Nasional (BPN) menindak tegas mafia tanah. Hal ini menyusul maraknya kasus sertifikat...
続きを読む »